Segenap Keluarga Besar Mamuju Sul-Bar.. Kompleks Pelabuhan Fery (Simboro Pantai).. Mengucapkan Terima Kasih kepada semua pihak yang telah mau dan meluangkan waktunya untuk singgah di Blog anak Mamuju Kreasi by Fathur (ammang) di Simboro
Pilih warna Background kesukaan sobat

Pulau Karampuang

Anda Pengunjung Ke

Followers

Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Juni 2013

Contoh Makalah KARYA ILMIAH

KARYA  ILMIAH

A.   Pengertian Karya Ilmiah
     Karya Ilmiah adalah karya tulis yang disusun oleh seorang penulis berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukannya. Karya ilmiah juga biasa disebut karangan ilmiah. Menurut Brotowidjoyo karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodolog penulisan yang baik dan benar.

B. Ciri-ciri Karya Ilmiah
 
Dalam karya ilmiah ada 4 aspek yang menjadi karakteristik utamanya, yaitu :
 
1. Struktursajian
    Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian inti (pokokpembahasan), dan bagian penutup. Bagian awa lmerupakan pengantar kebagian inti,  sedangkan inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri dari beberapa bab atau subtopik. Bagian penutup merupakan simpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan tersebut.

2. Komponendansubstansi
    Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagianinti, penutup, dan daftar pustaka.
 
3. Sikappenulis
     Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa impersonal, dengan banyak menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang pertama atau kedua.
 
4. Penggunaanbahasa
      Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata/istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif denganstruktur yang baku.
 
C.   Jenis-Jenis Karya Ilmiah
1). Makalah.
       Makalah, adalah karyailmiah yang membahas suatu pokok persoalan atau menyajikan suatu masalah, sebagai hasil penelitian data di lapangan yang bersifat empiris-objektif atau sebagai hasil kajian yang disampaikan dalam suatu pertemuan ilmiah (seminar) atau yang berkenaan dengan tugas-tugas perkuliahan yang diberikan oleh dosen yang harus diselesaikan secara tertulis oleh mahasiswa dan aturannya tidak  seketad makalah para ahli karena bias jadi dibuat berdasarkan hasil bacaan dan kemudian dengan tari kanteoritis.
 
2). KertasKerja
     Kertas kerja adalah makalah yang memiliki tingkat analisis lebih serius, biasanya disajikan dalam lokakarya. Kertas kerja pada prinsipnya sama dengan makalah. Kertas kerja dibuat dengan analisis lebih dalam dan tajam. Kertas kerja ditulis untuk dipresentasikan pada seminar atau lokakarya, yang biasanya dihadiri oleh ilmuwan. Pada ‘perhelatan ilmiah’ tersebut, kertas kerja dijadikan acuan untuk tujuan tertentu.
 
3). Skripsi.
     Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasar pendapat orang lain dimana karya ilmiah yang ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan, didukung data dan fakta empiris-objektif, baik berdasarkan penelitian langsung; observasi lapangan atau penelitian di laboratorium, atau studi kepustakaan dan dipertahankan di depan siding ujian (munaqasyah) dalam rangka penyelesaian studi tingkat Strata Satu (S1) untuk memperoleh gelar Sarjana. Dalam pengerjakannya dibantu dosen pembimbing. Dosen pembimbing berperan ‘mengawal’ dari awal sampai akhir hingga mahasiswa mampu mengerjakan dan mempertahankannya pada ujian skripsi. Skripsi menuntut kecermatan metodologi sehingga menggaransi kearah sumbangan material berupa penemuan baru.
 
4). TESIS
     Tesis, adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada tingkat program Strata Dua (S2), yang diajukan untuk dinilai oleh tim penguji guna memperoleh gelar Magister. Pembahasan dalam tesis mencoba mengungkapkan persoalan ilmiah tertentu dan memecahkannya secara analisis kritis. Karya tulis ilmiah ini sifatnya lebih mendalam dari pada skripsi. Mahasiswa melakukan penelitian mandiri, menguji satu atau lebih hipotesis dalam mengungkapkan ‘pengetahuan baru’.. Standarnya digantungkan pada institusi, terutama pembimbing. Dengan bantuan pembimbing, mahasiswa merencanakan (masalah), melaksanakan; menggunakan instrumen, mengumpulkan dan menjajikan data, menganalisis, sampai mengambil kesimpulan dan rekomendasi. Sekalipun pada dasarnya sama dengan skripsi,  tesis lebih dalam, tajam, dan dilakukan mandiri.
 
5). Disertasi.
      Disertasi adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada tingkat Strata Tiga (S3) yang dipertahankan di depan sidangujian promosi untuk memperoleh gelar Doktor  (Dr.). Pembahasan dalam disertasi harus analitis kritis, dan merupakan upaya pendalaman dan pengembangan ilmu pengetahuan yang ditekuni oleh mahasiswa yang bersangkutan. Disertasi ditulis berdasarkan penemuan (keilmuan) orisinil dimana penulis mengemukakan dalil yang dibuktikan berdasarkan data dan fakta valid dengan analisis terinci. Mahahisiswa (S3) harus mampu (tanpa bimbingan) menentukan masalah, berkemampuan berpikir abstrak serta menyelesaikan masalah praktis. Disertasi memuat penemuan-penemuanbaru, pandangan baru yang filosofis, tehnik atau metode baru tentang sesuatu sebagai cerminan pengembangan ilmu yang dikaji dalam taraf yang tinggi.

6). Artikel.
       Artikel,  merupakan karya tulis lengkap, seperti laporan berita atau esai di majalah, sura tkabar, dan sebagainya. Artikel  adalah sebuah karangan prosa yang dimuat dalam media massa, yang membahas isu tertentu, persoalan, atau kasus yang berkembang dalam masyarakat secara lugas.
Artikel merupakan: karyatulis atau karangan; karangan nonfiksi;  karangan yang tak tentu panjangnya; karangan yang bertujuan untuk meyakinkan, mendidik, atau menghibur; sarana penyampaiannya adalah suratkabar, majalah, dan sebagainya; wujud karangan berupa berita.
 
7). E s a i
     Esai, adalah ekspresitertulisdariopinipenulisnya. Sebuah esai akan makin baik jika penulisnya dapat menggabungkan fakta dengan imajinasi, pengetahuan dengan perasaan, tanpamengedepankansalahsatunya. Tujuannya selalu sama, yaitu mengekspresikan opini, dengan kata lain semuanya akan menunjukkan sebuah opini pribadi (opinipenulis) sebagai analisa akhir. Perbedaannya dengan tulisan yang lain, sebuah esai tidak hanya sekadar menunjukkan fakta atau menceritakan sebuah pengalaman; ia menyelipkan opini penulis di antara fakta-fakta dan pengalaman tersebut.

8). O p i n i.
    Opini,  adalah sebuah kepercayaan yang bukan berdasarkan pada keyakinan yang mutlak atau pengetahuan sahih, namun pada sesuatu yang nampaknya benar, valid atau mungkin yang ada dalam pikiran seseorang; apa yang dipikirkan seseorang; penilaian

9). F i k s i.
       Fiksi,  satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya  yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot,  konflik,  klimaks,  setting dan sebagainya adalah hal-hal penting  yang memerlukan perhatian tersendiri. Para pendukung tulisan fiksi meliputi: novelis, cerpenis, dramawan dan kadang penyair pun sering dimasukkan kedalam golongan ini.

D.Tujuan Karya Ilmiah
      yakni untuk menyampaikan gagasan, memenuhi tugas dalam studi, untuk mendiskusikan gagasan dalam suatu pertemuan, mengikuti perlombaan, serta untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan/ hasilpenelitian.

Read More »
Selasa, Juni 11, 2013 | 0 comments

Minggu, 09 Juni 2013

Contoh Makalah CHECK LIST 100% bagus

A. Pengertian Check List
      Check list adalah salah satu alat observasi, yang ditujukan untuk memperoleh data, berbentuk daftar berisi faktor-faktor berikut subjek yang ingin diamati oleh observer, di mana observer dalam pelaksanaan observasi di lapangan tinggal memberi tanda check (cek, atau biasanya dicentang) pada list faktor-faktor sesuai perilaku subjek yang muncul, di lembar observasi, sehingga memungkinkan observer dapat melakukan tugasnya secara cepat dan objektif, sebab observer sudah “membatasi diri” pada ada – tidaknya aspek perbuatan subjek, sebagaimana telah dicantumkan didalam list.

 Checklist merupakan suatu pencatatan yang bersifat sangat selektif karena berisisuatu daftar kriteria yang spesifik dan dibatasi padahal-hal yang bersifat observable (dapat diamati tingkah lakunya)sertaharusdijawabdengan “YA” atau “TIDAK”.Checklist jugabiasanya digunakan bersama-sama dengan metode  pencatatan lain agar dapat mendokumentasikan dengan baik hal / area  yang spesifiktersebut.
Setiap kriteria dalam checklist harus mengukur ada tidaknya pengetahuan, tingkah laku atau keterampilan dan mendeskripsikan secara tepat / detil / rinci  suatu gerakan, keterampilan atau tingkah laku sehingga tidak memberi kesempatan kepada observer untuk menilainya secara subyektif. Checklist digunakanapabilajenistingkahlaku yang akan muncul telah diketahui dan tidak dibutuhkan informasi tentang frekuensi dan/atau kualitas lain dari tingkahlaku tersebut. Penggunaan checklist :

1.    Memperlihatkankemajuan/ progresivitas dalam suatu rangkaian perkembangan kinerja seseorang;
2.    Mencatatadatidaknyasuatutingkahlakuatau criteria yang akandinilai;
3.    Sebagaisuatu screening untukmelihatadanyahambatan / keterlambatan (sebagai predictor dari  keterampilan atau tingkah laku yang akan terjadi selanjutnya);
4.    Sebagaicurriculum planning tooluntukmenyusunkurikulumindividuatau program selanjutnya.

 B. Fungsi Check List

1.    Sebagai inventory ( alat pencatat hasil observasi yang dipergunakan seseorang dalam mengamati diri sendiri/pengguna daftar cek selain sebagai observer juga sebagai observee).
2. Sebagai alat pencatat hasil observasi ( pengguna daftar cek hanya sebagai observer )

C. Keuntungan checklist
       Keuntungan yang diperoleh diantaranya :
  • Komprehensif  ( dapatmencakupbeberapa area dalamsatu checklist )
  • Efisien  dalam waktu dan pengerjaannya
  • Mendokumentasikanperkembanganataukinerjaspesifikindividu
  • Merupakansuatuilustrasi yang jelasmengenaikontinumperkembangankinerja SDM dalamorganisasi/perusahaan

D. Kerugian checklist
Adapun kelemahannya antara lain :
1.    Tidak mencatat detail/ rincian dari suatu kejadian sehingga pembaca tidak dapat mengecek keputusan yang dibuat olehpencatat / observer
2.    Mungkindibiaskanoleh observer
3.    Tergantungpada criteria yang observable
4.    Memiliki banyak item sehingga mungkin menghabiskan banyak waktu

E. Contoh Check List
                                              
 






Read More »
Minggu, Juni 09, 2013 | 0 comments

Sabtu, 08 Juni 2013

Makalah Tujuan Pengajaran Agama Islam

TUJUAN PENGAJARAN AGAMA ISLAM 

A. Pengertian Tujuan Pengajaran Agama Islam
    Tujuan artinya sesuatu yang dituju, yaitu yang akan dicapai dengan suatu kegiatan atau usaha. Sesuatu kegiatan akan berakhir bila tujuannya sudah tercapai. Kalau itu bukan tujuan akhir, kegitan berikutnya akan langsung dimulai untuk mencapai tujuan selanjutnya dan terus begitu sampai kepada tujuan akhir.

   Tujuan pendidikan ialah suatu yang hendak dicapai dengan kegiatan atau usaha pendidikan.Bila pendidikan itu berbentuk pendidikan formal, tujuan pendidikan itu harus tergambar dalam suatu kurikulum.Pendidikan formal ialah pendidikan yang disengaja diorganisir dan direncanakan menurut teori tertentu, dalam lokasi dan waktu yang tertentu pula, melalui suatu kurikulum.

    Pendidikan berusaha mengubah keadaan seseorang dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dapat berbuat menjadi dapat berbuat, dari tidak bersikap seperti yang diharapkan menjadi bersifat seperti yang diharapkan.Kegiatan pendidikan ialah usaha membentuk manusia secara keseluruhan aspek kemanusiannya secara utuh, lengkap dan terpadu.Secara umum dan ringkas dikatakan pembentukan kepribadian.

    Tujuan pendidikan Islam ialah kepribadian muslim, yaitu suatu kepribadian yang seluruh aspeknya dijiwai oleh ajaran Islam. Orang yang berkepribadian muslim dalam Al-Qur’an disebut “Muttaqin”, karena itu pendidikan Islam berarti juga pembentukan manusia yang bertakwa. Ini sesuai benar dengan pendidikan nasional yang akan membentuk manusia pancasilais yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

     Meskipun lingkungan umum dan alam sekitar yang tidak diorganisir dapat medidik orang, namun orang sangat membutuhkan pendidikan formal melalui sekolah, karena pendidikan formallah yang mempunyai tujuan yang jelas. Dalam pendidikan formal direncanakan dan diatur segala sesuatu yang berhubunan dengan tujuan, cara dan alat untuk mencapai tujuan itu, waktu dan tempat mencapai tujuan itu. Karena itu tujuan pendidikan Islam dapat dicapai dengan pendidikan formal.Sedangkan pendidikan formal itu dicapai dengan pengajaran. Ini berarti bahwa tujuan pengajaran ialah untuk mencapai tujuan pendidikan Islam, yaitu kepribadian muslim. Membicarakan pengajaran islam berarti juga membicarakan pendidikan Islam. Pendidikan Islam itu sulit dicapai kalau bukan dengan pengajaran agama Islam.Sedangkan pengajaran Islam tidak aka nada artinya kalau tidak dapat mencapai tujuan pendidikan Islam.

B. Fungsi Tujuan 
    Kegiatan pengajaran harus mempunyai tujuan, karena setiap kegiatan yang tidak mempunyai tujuan akan berjalan meraba-raba, tak tentu arah tentu tujuan, tujuan yang jelas dan berguna akan membuat orang lebih giat, terarah dan tersunguh-sungguh. Semua kegiatan harus berorientasi pada tujuannya.Segala daya dan upaya pengajaran harus dipusatkan pada pencapaian tujuan itu. Bahan pelajaran, Metode dan teknik pelaksanaan kegiatan pengajaran, sarana dan alat yang digunakan harus dapat menunjang tercapainya tujuan pengajaran efektif dan efisien. Karena itu tujuan pengajaran harus berfungsi sebagai :
a.     Titik pusat perhatian dan pedoman dalam melaksanakan kegiatan pengajaran
b.     Penentu arah kegiatan pengajaran;
c.     Titik pusat perhatian dan pedoman dalam menyusun rencana kegiatan pengajaran;
d.    Bahan pokok yang akan dikembangkan dalam memperdalam dan memperluas ruang lingkup  pengajaran;
e.    Pedoman untuk mencegah atau menghindari penyimpangan kegiatan.

C. Sumber Tujuan Pengajaran 
       Tujuan pengajaran ialah rumusan keinginan yang akan dicapai dengan pengajaran.Rumusan ini bukanlah didapat sambil lalu, tetapi setelah melalui berbagai pertimabangan.Yang jelas tujuan pengajaran ini ialah pengembangan dan penjabaran dari tujuan pendidikan Islam. Tujuan pendidikan Islam ialah kepribadian muslim yang dalam istilah Al-Qur’an disebut “Muttaqin”, yaitu orang yang bertakwa kepada Allah, tuhan pencifta  dan pemelihara manusia dan alam semesta. ini berarti bahwa tujuan pendidikan Islam itu bersumber pada ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan sunnah Nabi.Bagi orang Islam, ajaran agama itu merupakan filsafat dan pandangan hidup.Selaku warga Negara Indonesia, maka pancasilalah yang menjadi filsafat dan pandangan hidup itu dan dari sinilah bersumber tujuan pendidikan nasional kita yang dirumuskan dalam KetetapanMPR dan Undang-Undang pendidikan. Sebagai umat Islam yang menjadi warga Negara Indonesia, tujuan pendidikannya harus bersumber pada kedua filsafat dan pandangan hidup itu; yaitu ajaran islam dan pancasila. Paduan kedua filsafat dan dn pandangan hidup ini dirumuskan dalam tujuan instruksional lembaga-lembaga pendidikan Islam sesuai engan jenis dan tingkatannya.Hasil rumusan ini dikembangkan menjadi tujuan kurikuler masing-masing sekolah atau perguruan Islam. Dengan demikian berarti bahwa secara tegas tujuan pengajaran agama Islam dinegara kita ini bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang didukung oleh pancasila.


D. Prinsif dan Ciri Tujuan Pengajaran Agama Islam 
Berbagai jenis lembaga pendidikan Islam dengan tingkat yang berbeda.Dalam merumuskan tujuan pengajaran tidak boleh menyimpang atau menentang prinsip pokok dalam syariat ajaran Islam, yang dalam istilah syariat Islam disebut “maqashid as syari’ah”.
        
      Maqashid as syari’ah itu ialah : 
1. Mememlihara kebutuhan pokok hidup yang daruri (vital); yaitu sesuatu yang mesti ada dalam kehidupan yang normal; dengan arti bahwa bila semua atau salah satunya saja tidak ada atau rusak, akan rusaklah kehidupan. Sesuatu yang harus ada itu adalah :
- Agama, yaitu kepada ajaran agama yang meliputi akidah dan syari’ah serta kesedian mengamalkan ajarannya. Tanpa agama, hidup itu akan rusak dan tidak beres menurut keyakinan yang diajarkan Islam.

- Jiwa dan raga, yaitu keseluruhan dari jasmani dan rohani seseorang, dimana sangat dibutuhkan untuk hidup dan membuat orang hidup. Kurang, rusak atau terganggunya sebagian saja dari jiwa dan raga ini hidup akan terganggu.

- Keturunan, yaitu anak, cucu dan sebagainya. Suami dan istri dimasukkan kedalam kelompok ini, karena masing-masing menjadi alat atau penyebabnya.keturunan ini dibutuhkan dalam hidup dan kelanjuannya. Tidak ada, hilang atau rusaknya keturunan maka hidup akan sepi dan rusak pula.

- Harta, yaitu segala sesuatu yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, dalam hidup orang perlu makan, perlu minum,pakaian penjagaan dan perawatan kesehatan, liburan, kehormatan dan sebagainya. Karena harta merupakan sesuatu yang sangat diperlukan dalam hidup, tanpa harta akan menimbulkan berbagai kesulitan dalam kehidupan.

- Akal dan kehormatan, yaitu otak dan kesanggupan mengamati, menanggapi, memikirkan dan menghayati sesuatu. Kehormatan ialah harga diri.Akal dan kehormatan ini merupakan sesuatu yang dibutuhkan dalam hidup. Rusak atau hilangnya akal akan menimbulkan kerusakan hidup dan membuat hidup tidak berarti. Kehormatan itu juga sangat tergantung pada akal karena takkan terwujud kehormatan pada orang yang berakal.
Kelima hal yang sangat dibutuhkan dalam hidup itu disebut, Qawaid al khamsah, yang harus dipelihara dan dipupuk.Ini adalah prinsip pokok ajaran Islam yang harus dijaga dalam pelaksanaannya.

2. Menyempurnakan dan melengkapi kebutuhan hidup, sehingga yang diperlukan mudah didapat, kesulitan dapat diatasi dan dihilangkan.Untuk itu digunakan istilah haji( haji, hajat= dibutuhkan), yakni segala sesuatu yang mempermudah daruri (kebutuhan pokok). Kesulitan karena berjalan jauh (musafir) membolehkan mengqasar shalat; kelaparan yang mencekik, membolehkan memakan makanan yang haram, bila hanya makanan itu saja yang ada

3. Mewujudkan keindahan, keberesan dan kesempurnaan dalam suatu kebutuhan. Untuk itu digunakan istilah tahsini( tahsini = membuat lebih baik, lebih indah). termasuk sopan santun, tingkah laku yang menyenangkan, berpakaian dan berhias secara pantas, berpakaian yang bersih, indah dan pantas dalam mengerjakan ibadat dan lain-lain. Meskipun tidak rusak kehidupan dengan tidak adanya tahsini ini, namun ini dibutuhkan dalam kehidupan yang baik.

Demikianlah prinsip pokok ajaran agama Islam yang juga harus menjadi tujuan pendidikan dan pengajaran agama Islam. Ini berarti bahwa dalam tujuanpendidikan Islam, harus berisi sesuatu yang menumbuhkan, menyuburkan dan mengembangkan keyakinan beragama, mengamalkan ajarannya, memelihara dan menyalurkan pertumbuhan dan perkembangan rohani dan jasmani, membina dan menjaga kesejahteraan jiwa dan raga menurut norma-norma agama yang digariskan oleh ajaran Islam.

Disamping itu, dalam tujuan pendidikan dan pengajaran agamaIslam itu harus ada yang bersifat mengembangkan potensi yang sudah ada didalam diri manusia itu sendiri untuk mewujudkan yang haji dan tahsini.Sebagai warga Negara Pancasila, orang harus menyesuaikan tujun pendidikan Islam itu dengan tujuan pendidikan nasionalnya, yaitu membentuk manusia Pancasilais yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga tujuan itu menjadi: manusia muslim yang Pancasilais. Inilah yang harus dicapai oleh pendidikan dan pengajaran agama Islam di Indonesia ini.Tujuan ini dijabarkan dan dikembangkan dalam instruksional masing-masing lembaga pendidikan Islam sesuai dengan jenis dan tingkatannnya, dimana harus serasi tidak boleh bertentangan dengan prinsip pokok yang bersumber dari kedua sumber (ajaran Islam dan Pancasila).

Adapun ciri tujuan itu, selain dari ciri umum tujuan pendidikan dan pengajaran agama pada umumnya, ialah :

- Mudah dipahami, dapat dilaksanakan untuk menumbuhkan dan memperkuat iman, isi dan caranya harus bersifat manusiawi; sesuai dengan kodrat manusia manurut umur dan tingkatannya.

- Tidak bertentangan dengan logika dan pertumbuhan rasa keimanan seseorang.

- Sesuai dengan umur kecerdasan dan tingkat perkembangan keyakinan terhadap ajaran agama Islam.

- Mendukung terlaksananya ajaran Islam yang amaliah;

- Untuk mencapai tujuan itu tidak menggunakan alat atau penjelasan yang merusak atau mengurangi citra kesucian Islam.

E. Kandungan Tujuan
a. Menumbuhkan dan memperkuat iman
b. Membekali dan memperkaya ilmu agama;
c. Membina keterampilan beramal;
d.    Menuntun dan mengembangkan potensi yang dibawa sejak lahir sebagai manusia secara utuh (individual);
e. Menumbuhkan dan memupuk rasa sosial dan sifat-sifat terpuji;
f. Pemberian pengetahuan dan keterampilan yang dapat diamalkan dan dikembangkan dalam berbagai lapangan pekerjaan untuk mencari nafkah (tenaga professional).
Secara umum dan ringkas dapat dikatakan bahwa tujuan pengajaran agama Islam itu harus mengandung berbagai aspek pembinaan manusia seutuhnya, sehingga nantinya ia dapat hidup dengan baik sebagai manusia Pancasilais yang bertakwa kepada Allah menurut ajaran Islam.

F. Jenjang Tujuan
      Tujuan pengajaran itu secara utuh dan lengkap tidak dapat dicapai dengan kegiatan pengajaran sekaligus  dalam waktu yang singkat, Tetapi melalui tahap-tahap periodisasi, yang perwujudannya dikembangkan dalam tingkatan-tingkatan pendidikan (pra-sekolah, rendah (dasar), menengah, (tinggi).Secara formal tujuan itu diperinci menjadi pendidikan pendahulan (pra sekolah) yakni Taman Kanak-kanak.Selanjutnya sekolah permulaan (SD, Ibtidaiyah), meningkat lagi pada sekolah lanjutan (pertama dan atas) tujuan untuk lanjutan sekolah ini dirumuskan untuk pengajaran di SMP, Tsanawiyah, SMA, Aliyah, PGA, dan sederajat dengan itu.Tujuan pengajaran lanjutan ini ditingkatkan lagi pada tujuan pengajaran pada Perguruan Tinggi dengan variasi intruksionalnya.Dengan ini berarti bahwa bobot dan mutunya senakin meningkat dan mendalam.

Penjenjangan tujuan ini disesuaikan dengan jenjang pendidikan formal yang berlaku dinegara kita.Setiap tahap dari jenjang tujuan itu harus berisi unsur yang meliputi kandungan tujuan secara penuh dengan bobot dan mutu yang semakin meningkat sesuai dengan tingkat pengajarannya. Setiap orang yang telah menyelesaikan satu tahap tingkatan pengajaran, hendaknya ia dapat hidup ditengah masyarakat dengan baik, sebagai manusia yang bertakwa kepada Allah menurut ajaran Islam.

G.Tujuan Bidang Studi.
Tujuan bidang studi artinya sesuatu yang akan dicapai setelah mempelajari sejumlah materi pelajaran yang tergabung satu bidang studi itu. Agama Islam itu sebenarnya bukan suatu mata pelajaran, bukan suatu bidang studi. Agama Islam itu adalah suatu kepercayaan, suatu agama yang ajarannya yang diwahyukan oleh Allah Swt yang dibukukan, dijelaskan dan dilengkapi oleh Rasul Allah yakni Muhammad dengan sabdanya bernama Sunah (Hadis), dijelaskan dan dikembangkan lagi oleh para sahabatnya dan kemudian oleh para ahli syari’at Islam yang datang kemudian untuk mewrisi tugas Rasul itu.Dengan ini jelas bahwa ajaran Islam itu bersumber pada wahyu, bukan pada hasil pengolahan otak manusia. Karena itu agama Islam tidak dapat disamakan dengan ilmu lain yang bersumber dari pengolahan otak manusia. tetapi ajaran agama itu dapat dipelajari dan diamalkan. Tujuannya tentu saja supaya orang mempunyai pengetahuan tentang ajarn islam itu untuk diyakini dan diamalkan sehingga ia menjadi seorang muslim dan selanjutnya berkepribadian muslim. Sesuai dengan fungsinya bahwa agama Islam itu sebagai pedoman dan pegangan hidup, maka ajarannya tentu saja meliputi seluruh aspek kehidupan. Oleh karena pembahasan agama islam itu sangat luas maka untuk memudahkan mempelajarinya orang membagi dan memperinci pengajaran agama itu kedalam beberapa bidang studi, sesuai dengan sifat dan ruang lingkup materi yang akan dipelajari. Materi yang berkenaan dengan tingkah laku dan adab sopan santun dirumuskan kedalam bidang studi akhlak.Materi pelajaran yang berisi ajaran tentang ibadah dikumpulkan dalam bidang studi ibadah; bila digabungkan dengan materi yang berisi masalah muamalat, munakahat, jinayat dan sebagainya dikumpulkan dalam bidang studi syari’ah atau fikih.Begitupun selanjutnya sehingga semakin banyak dan beragam pulalah bidang studi pengembangannya.Masing-masing bidang studi itu punya tujuan sendiri sesuai dengan pengembangan dan penjabaran dari butir-butir tujuan pengajaran umum yang dituangkan kedalam rumusan tujuan instruksional khusus.

Read More »
Sabtu, Juni 08, 2013 | 0 comments

Makalah Metode Pengajaran Yahudi Kuno

1. METODE PENGAJARAN YAHUDI KUNO
    Pendididkan kebangsaan yahudi adalah transisi antara sikap pendidikan  timur dan barat. Tujuan pendidikannya adalah menuju keabadian tuhan yang maha Esa (jehovah). Musa mengajarkan konsep Jehovah itu sebagai suatu tuhan bangsa yang akan mengawasi rakyatnya. Menurut mereka setiap bangsa mempunyai tuhannya masing-masing.Tapi bagi bangsa yahudi jehovalah tuhan mereka, tidak ada yang lain lagi.
 
     Tipe pendidikannya adalah latihan keagamaan atau latiha kewarganegaraan. Keagamaan sama dangan patriotisme. Jehovah adalah tuhan Israel, cina kepadanya sama artinya cinta kepada bangsa. Isi pelajaran pada umumnya cerita tentang orang yahudidan tuhan Jehovah, festival Passover, Pantekosta, Tabernakel dan sebagainya.Hanya anak-anak Laki-laki yang belajar menulis dan membaca.Anak prempuan diajar Ibunya memasak dan menjahit.
 
     Setelah pendidikan dasar formal, didirikan Organisasi sekolah dasar (Synagogue) sekolah itu disusun atas tiga tingkat: satu untuk Anak umur 6 – 10 tahun,satu lagi untuk anak umur 10 – 15 tahun, dan ketiga untuk anak diatas 15 tahun. Synagogue ini hanya diperuntukkan kepada anak Laki-laki, sedangkan anak perempuan dididik dirumah.
 
    Metode mengajar sebagian besar dengan lisan, karena kurang kepandaian mereka menulis. Pendidikan ditingkat tinggi dilakukan dengan pertunjukan dan pertanyaan pedebatan.
 
2. Metode pengajaran romawi
     Konsep pendidikan romawi adalah suatu konsep utilita-rianisme.Romawi tidak menyumbangkan konsep intelektual atau artistic kepada peradaban modern.Ia lebih banyak menyumbangkan organisasi dan administrasi Negara. Orang romawi adalah rakyat yang praktis.Sistem nilai-nilaimereka ambil dari romawi kuno dan Yunani kuno.Organisasi militer dan institusi politik mereka sudah teratur.
 
    Tujuan pendidikan Romawi kuno ditekankan pada pembentukan keperwiraan kesetian kepada Negara. Paham kegunaan sangat dipentikan, sedangkan keharmonisan, seperti pad Yunani kuno kurang mendapat perhatian tetapi tujuan pendidikan Romawi baru agak berbeda  dari yang kuno. Di masa inipengembangan intlektual telah mendapat perhatian kuat, kemampuan berbahasadan berbicara serta berdebat telah diutamakan.Fungsi pedidikan adalah menghasilkan orang yang terampil berbicara dan mampu melayani kepentingan Negara.
 
   Orang yang terdididik adalah orang yang terlatih menjadi orator.Seorang orator ialah orang yang mempunyai moral tinggi, berkebudayaan tinggi dan mampu berbicara secara meyakinkan.

     Tujuan sekolah Romawi baru adalah mempersiapkan siswa untuk kehidupan masalahmasyarakat Negara. (Cicero 106-34 SM) didalam buku De Oratorenya, Tacitus (55 -117 M) dlam Oratorenya, Quintilian (35 -100 M) didalam De Institutione Oratorianya mengatakan  bahwa Orator adalah orang terdididik yang dicita-citakan.
 
     Metode pengajaran Romawi kuno yang utama adalah imitasi.Tekanan diberikan atas pembiasaan.Jadi yang terpenting adalah latihan, bukan pengajaran yang didasarkan atas rasio.Disiplin sangat keras dan hukuman pun demikian pula.Kalau perlu hukuman sampai mati, dan ini dibenarkan dibawa kekuasaan yanmg telah disetujui.Oleh orang tuayang terkenal dengan patria polesto.Tapi metode pengajaran Romawi baru agak lentur dan lebih mengembirakan.Murid-murid duduk dilantai. Jam pelajaran berlangsung sejak mata hari terbit sampai mata hari terbenam. Pelajarang menulis dan membaca diajarkan dengan dikte oleh Guru.Pronansiasi, pengucapan, dan ekspresi kecerdasan mendapat perhatian khusus.Pelajarang menulis dilakukan dengan menyalin diatas meja lilin.Demikian dilakukan pada pendidikan rendah.
 
      Metode pengajaran di tingkat menengah dan tinggi agak lebih intensif, tetapi masih bersifat dril.Salah satu metode yang terkenal di kalangan guru-guru adalah mendiktekan suatu kutipan karangan.Di tingkat tinggi dilakukan dengan caramah.Retor menceramakan pelajaran dangan panjang lebar.
 
3. METODE PENGAJARAN KRISTEN
     Konsep pedididkan Kristen bersumber dari ajaran Yesus.Inti ajaran Yesus kira-kira berbunyi sebagai berikut, “temukanlah dirimu didalam kerajaan tuhan kekuasaannya, dan segala sesuatu ini akan bertambah untukmu. “ Yesus mengajarkan suatu doktrin cinta semesta ke bapa tuhan dan akan datangnya kerajaan surge di bumi di landasan oleh dasar persaudaraan semesta. Kerajaan surge di bumi adalah tujuan pendidikan tertinggi yang tak perna di lalui tanpa dengan kehormatan dan kehormatanny. Basis kerajaan itu terletak di dalam hati manusia, yaitu:
1.    Menghormati kepribadian manusia dan hak individu,
2.    Efisiensi sosial dalam hubungan manusia.
 
Isi pelajaran Yesus ialah melakukannya yaitu terlihat pada kelakuan sese orang.Jadi, tidak ada sesuatu rangkaian kebiasaan, spesifik dan keterampalan, demikian puala tidak ada kaidah- kaidah mengingat. Tampaknya ia memusatkan pengajarannya yang hakiki yaitu kebenaran Universal.
 
Yesus tidak menyusun suatu sekolah ataupun mengembangkan lembaga spsial.Orang-orang kristenlah yang menyusun dan membangun gereja. Yesus juga tidak menulis buku, ia pun tidak menggunakan buku teks, walaupun ia banyak mengenal buku-buku. Ia hanay berkata kepada orang banyak yang di temuinya.

Di rumah, di tepi pantai, di tepi sungai, di jalan raya, di puncak bukit, di dalam pertemuan social, dan tempat- tempat pelajaran agama adalah tempat ia mengajar. Yesus demikian juga Socrates, menganggap guru itu salah satu badan pendidikan.
 
Metode mengajar Kristen mencontoh pekerjaan Yesus.Yesus mempunyai suatu pengertian infensitif mengenai kaidah belajar.yesus mendorong murid-muridnya menjadi pelaku, bukan hanya pendengar.Metode Yesus itu objektif, langsung, dan pribadi.Ia mengarahkan perhatian kepada dudia luar dan kegiatan-kegitan bertujuan. Pengajarannya dilakukan secara lisan,  walaupun dengan cara berkhotbah unuk orang ramai. Metode dialektik untuk teman-temannya yang terdekat. Di samping itu cara hidupnyapun menjadi contoh pengajaran.
 
4. Metode  pengajaran gereja Kristen tua
     Ajaran kristenyang Mula-mula dibangun oleh banyak pendeta, seprti St. Paul.Padawaktu itu terdapat banyak kepercayaan yang bersipat lokal.Gereja Kristen mensintesiskan kepercayaan-kepercayaan Yesus. Paul mengembara ke Romadan negri-negeri disekitar laut tengah, dan ia mendirikan tempat peribadatanya yang terkenal di bukit Marsdi Atena. St. Peter mengembara ke Roma di sana ia mempersiapkan pendiriann pusat Gereja. Ajaran- ajaran mereka lambat laun diterima oleh masyarakat banyak dan puncaknya yang terkenal ialah dengan diteimanya ajaran ini oleh kaisar Romawi yang bernama Constantine (272-337 M).ia tidak lama menerima ajaran gereja Kristen ini, bahkan mendoronnya agar diterima dan menjadikan agama Negara. Di masa inilah bergabungnya agama-agama local dengan filsafatyang bukan agama dengan berintikan agama Yesus. Alexandria adlah kota pusat peleburan agama dengan filsafat di waktu itu. Ajaran Alexandria ini banayak sekali memberi sumbangan kepada Agama Kristen.
 
Tujuan utama gereja keristen mula-mula ialah hendak memperbaiki moral yang telah runtuh pada setiap individu dan membangun moral dunia.untuk mencapai tujuan pendidikan itu di lakukan dengan latihan moral dan agama.pada mula-mula sekali ajaran gereja Kristen ini tidak mempunyai ajaran inltektual.pelajaran diletakkan utama pada perasaan,bukan pada akal, demikian di Romawi Barat. Tetapi di Romawi Timur pelajarn didasakan  pulapada inltek setelah latihan agama.

Isi pelajaran Kristen tua terbatas pada kecurigaan dan ketidak benaran ajaran inltektual yang di ajarkan oleh raja yang bukan berjiwa agamadan membekam kebudayaan dan masyarakat korupsi yang ditimbulkan oleh ajaran yang bukan agama. Sekolah atau ajaran pagam (ajaran yang bukan agama berjiwa agama seprti filsafat Yinani kuno Romawi kuno) adalah  musuh gereja. Tapi pada abad kedua pengajaran Kristen telah mulai mengajarkan pelajaran yang diajarkan oleh orang pagan.Peljaran ini diajarkan untuk memperkuat kepercayaan dan doktrin Kristen, tetapi hanya berlaku di Romawi Timur.

Gereja adalah lembaga pendidikan Kristen yang pertama, sedangkan rumah tangga masih banyak dipengaruhi oleh ajaran pagan. Di mana gereja terdapat pula satu lembaga pendidikan yang bernama Catechumeus untuk mendidik orang-orang  yang ingin menjadi anggota yang berguna.

Metode pendidikan gereja Kristen tua berupa peramalan atau pertunjukan yang tidak dipersiapkan terlebih dahulu dan pendesakan-pendesakan. Pada sekolah-sekolah gereja kristen belakangandipergunakan pula metode Catechis, murid-murid mengingat jawaban pertanyaan dari arahan guru, apa bila ia ditanyai. Sedikit sekali usaha mempelajari makna kata yang di ajarkan oleh guru.Ia cukup dengan mengucapkan kata itu tepat-tepat. Murid cukup mendengarkan ucapan guru dengan sungguh-sungguh dan kemudian dengan itu murid akan akan menangkap artinya.  


                                                           PENDAHULUAN

      Pada dasarnya pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik, dan  sumber belajar suatu lingkungan belajar. Interaksi dalam pembelajaran diciptakan secara sengaja oleh pendidik agar memungkinkan siswa untuk belajar.Dalam menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif, komponen-komponen dalam pembelajaran harus dipehatikan dengan serius demi pembelajaran yang efektif dan efisien. Guru dan siswa merupakan komponen utama dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran guru bertanggung jawab mengatur dan mengelola lingkungan sekolahnya pencapaian tujuan pendidikan sesuai arah yang diinginkan. Guru harus mampu mengelola seluruh proses kegiatan pembelajaran dengan menciptakan kondisi-kondisi belajar sedemikian rupa sehingga setiap siswa dapat belajar secara efektif dan efisien, Dalam menciptakan kondisi belajar yang kondusif tidak terlepas dari kemampuan guru dalam memilih metode pembelajaran yang tepat sehingga dapat mengarahkan pebelajar pada tujuan yang telah ditetapkan, Demi mewujudkan tujuan pembelajaran, sudah menjadi keharusan bagi para pendidik agar memahami berbagai hal mengenai pembelajaran bahasa yang nantinya dapat menunjang keterampilan guru dalam menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien.Salah satunya adalah metode pembelajaran.Dalam dunia pengajaran metode adalah rencana penyajian bahan yang menyeluruh dengan urutan sistematis berdasarkan approach tertentu.Metode meliputi, pemilihan bahan, penentuan urutan bahan, pengembangan bahan, rancangan evaluasi dan remedial.Metode sering diartikan dengan pendekatan dan teknik, ketiganya sering dipakai secara bersamaan dan sering kali disalah artikan maknanya. Walaupun memiliki keterkaitan yang sangat erat, ketiganya  sangatlah berbeda.
 
Demi memahami lebih jauh dan mendalam mengenai metode pembelajaran bahasa, subtansi materi yang diangkat dalam tulisan adalah pertama, hakikat metode pembelajaran. Dan Kedua, ragam metode pembelajaran.


                                                               KATA PENGANTAR
 
     Puji dan Syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Karena berkat dan rahmat hidayah-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah ini. Salam dan salawat semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya kerena beliau telah mengantar kita dari alam yang gelap kea lam yang terang-menderang.
penulis makalah ini menyusun berdasarkan ketentuan yang telah di berikan oleh Dosen sebagai bahan presentasi dan juga sebagai salah satu syarat agar mahasiswa dapat mencapai kompetensi dalam ilmu pengetahuan.

    Dengan penuh kesadaran, kami menyadari bahwa makalah kami masih jauh dari kesempurnaan,akan tetapi mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua terutama bagi kami. Amien..

Read More »
Sabtu, Juni 08, 2013 | 0 comments

Makalah Dasar Filosofis dan Dasar Teoritis

BAB I
DASAR FILOSOFIS DAN DASAR TEORETIS

A. Pengertian Filosofis
   Arti filosofis.dari asal katanya filosofi berasal dari dua kata Yunani philo (cinta) dan shopia (kebijaksanaan). dalam hal ini dapat berarti sebagai ilmu yang mempelajari kebijaksanaan dalam upaya untuk mencari dan menemukan kebenaran dalam hidup, disebut juga filsafat.
Hal yang demikian berlaku pula pada metode pendidikan, karena menyangkut pembentukan kepribadian manusia dan kualitas hidup mereka.
 
B. Hubungan Pemilihan Metode dengan Masalah Filsafat
Bagaimana hubungan pemilihan metode tersangkut dengan masalah filsafat dapat dilihat dari uraian berikut :
 
Pertama, marilah kita lihat dari titik pandangan pembentukan karakter yang berlangsung didalam diri setiap anak.Belajar adalah suatu bagian terpaut pada pengalaman kehidupan yang secara berkumulatif menyerap kedalam sifat-sifat karakter. Karakter spesifik yang terbangun akan tergantung pada jenis tanggapan pelajar yang membuat situasi kehidupan yang ditemuinya. Umpamanya tanggapan anak terhadap suatu otoritas pada dirinya mempunyai makna yang berkesan. Satu jenis perlakuan orang tua atau guru akan mempengaruhi anak, ada yang berupa perlawanan atau penurutan – kepatuhan, atau akan mendoronnya menjadi aktif. Berbagai kemungkinan ini adalah suatu kemelut bagi masalah metode.
 
Kedua, ada banyak jalan untuk mengurus sekolah dan cara mengajar murid. Setiap perbedaan cara mengajar itu mempengaruhi tipe korelasi tanggapan murid dan sesuai dengan tipe korelasi itu menghasilkan sifat-sifat karakter. Kemungkinan-kemungkinan perbedaan pengaruh karakter itu menuntut adanya pemilihan metode yang teliti.
 
Ketiga, Pertimbangan-pertimbanan mengenai masyarakat sekolah yang akan dipersiapkan, umpamanya masyarakat demokratis atau yang lain. Perbedaan jenis masyarakat tersebut.

Masalah metode ini dapat  dilihat secara sempit dan dapat pula secara luas. Secara sempit ia hanya menyangkut mata pelajaran yang akan diajarkan dan bagaimana dan bagaimana megelola tipe mengajar yang terbatas. Tetapi secara luas masalah metode ini menyangkut dengan banyak nilai yang akan ditegakkan, seperti nilai mata pelajaran, sikap dan karakter yang akan dibangun, pengaruh kehidupan demokrasi, nilai-nilai masyarakat, dan semua masalah yang berkaitan dengan situasi khusus. Bagaimana berbuat dengan anak menyangkut nilai-nilai tersebut tadi, sebenarnya berfilsafat. Disitu kita menimbang-nimbang nilai yang akan dipegang dan mencari mana yang lebih dalam yang patut diikuti.

Kalau kita kembali kepada pandangan secara sempit, maka timbul pula permasalahan kesatuan mata pelajaran dengan metode.Menurut paham dualism, jiwa dan dunia benda termasuk orang adalah dua yang terpisah dan mempunyai alam yang berdiri sendiri, dan pandangan ini pun menganggap bahwa metode dan mata pelajaran terpisah.Mata pelajaran adalah suatu klasifikasi fakta yang secara sistematis sudah siap. Metode mempunyai daerahnya sendiri yang akan menyampaikan mata pelajaran secara baik dan berkesan didalam jiwasecara teori, suatu ilmu dapat dideduksikan kedalam jiwa dengan melalui metode yang lengkap.
Tetapi oleh karena pikiran itu adalah suatu gerak yang terarah dari mata pelajaran menuju kepada penyempurnaan peristiwa, dan karena jiwa adalah fase intensi proses, pendapat yang memecah antara metode dengan mata pelajaran itu adalah keliru. Kenyataanya adalah bahan suatu ilmu pengetahuan yang terorganisasi itu adalah bukti bahwa ia telah tersedia dimata pelajaran bagi intelegensi, itu adalah dimetodikkan. Dengan kata lain metode itu berarti suatu rangkaian mata pelajaran yang membuatnya sangat efektif dalam penggunaan. Jadi metode itu tak pernah berada diluar bahan pelajaran. Metode tidak bertentangan dengan mata pelajaran, ia adalah pengarahan yang efektif bagi mata pelajaran menuju hasil yang diinginkan.
 
C. Sifat Dasar Metode
Jika kita bertolak dari pandangan dualism yang memisahkan metode dari mata pelajaran maka dapatlah diuraikan sebagai berikut :
 
(1)    Metode itu berasal dari pengamatan terhadap apa apa yang sebenarnya terjadi dan melihatnya nanti lebih baik dikala yang lain. Tetapi pengajaran disiplin yang dilakukan berdasarkan atas suatu ide metode membuat anak-anak dan pemuda kurang mendapatkan kesempatan pengalaman yang memuaskan.Pengalaman telah ditundukkan kebawah kondisi yang ditimbulkan oleh metode. Metode lalu menjadi pemberi rekomendasi otoritatif terhadap guru dan ia menggantikan ekspresi observasi menjadi uniformitas mekanis yang dianggap sama bagi semua jiwa. Tetapi kenyataannya bahwa tiap-tiap individu mempunyai karakteristiknya sendiri dalam kehidupannya.
 
(2)    Pertama, apabila cara mengelola bahan pelajaran yang efektif dilakukan sebagai sesutau yang telah siap dan terpisah dari bahan pelajaran, dengan menggunakan kegemaran kegembiraan hebat atau kegelian. Kedua, menerima konsekuensi kepedihan akibat ketidaktercapaiannya tujuan, artinya kita dapat menggunakan ancaman kekerasan untuk motivasi yang berkenaan mata pelajaran asing.Ketiga, imbauan langsung agar seseorang bekerja terus tanpa suatu alasan. Jika hal ini dihubungkan dengan saringan “kemauan”, maka dalam praktek terlihat bahwa metode yang ketiga itu hanya akan efektif apabila diancam dengan hasil yang tidak menyenangkan.
 
(3)    Tindakan belajar itu adalah suatu pengarahan dan kesadaran yang berakhir didalam dirinya sendiri.
Dalam keadaan normal, belajar itu adalah suatu hasil dan jasa yang diperoleh dari mata pelajaran.Anak-anak belajar berjalan atau berbicara, tidak berada diluar arah gerak berjalan atau berbicara itu.Ada suatu perangkat impuls yang muncul untuk komunikasi dengan dunia lingkungannya.Ia belajar akibat dari arah kegiatannya.
 
(4)    Dibawah pengaruh konsep perpisahan antara jiwa dengan badan, metode cenderung untuk terdesak kepada hal yang rutin yang sering dan mengikuti langkah-langkah yang telah diuraikan secara mekanis. Alangkah banyaknya anak-anak meresitasi pelajaran matematika dan tata bahasa yang dipaksakan oleh metode yang telah di tetapkan lebih dahulu.metode yang dikehendaki adalah usaha mendorong anak-anak mengolah topik pelajaran secara langsung, bereksprimen dengan metode yang membenarkan untuk belajar dengan konsekuensi yang akan muncul.

BAB II
METODOLOGI PENGAJARAN AGAMA ISLAM
A. Pengertian Metodologi Pengajaran Agama Islam
Metode mengajar itu adalah suatu tehnik penyampaian bahan pelajaran kepada murid.Ia dimaksudkan agar murid dapat menangkap pelajaran dengan mudah, efektif dan dapat dicerna oleh anak dengan baik. Oleh karena itu terdapat berbagai cara yang dapat ditempuh. Dalam memilih cara atau metode ini guru dibimbing oleh filsafat pendidikan yang dianut guru dan tujuan pelajaran yang hendak dicapai. Disamping itu penting pula memperhatikan hakikat anak didik yang hendak didik, dan bahan pelajaran yang hendak disampaikan. Jadi metode itu hanyalah menentukan prosedur yang akan diikuti.
Marilah kita lihat beberapa ayat Al-Qur’an yang dapat dijadikan petunjuk dalam membicarakan metode mengajar ini :
 
Terjemahannya :
Hai Muhammad! bacalah! Dengan nama tuhanmu yang menciftakan alam semesta. ialah yang mencipatakan manusia dari segumpal darah. Bacalah Muhammad, bahwa Tuhanmu itu amat mulia, yang mengajar orang dengan perantara kalam
 
Secara lahiriah memberi suatu petunjuk tentang metode mengajar.Bahwa pelajaran yang utama adalah pelajaran membaca.di dalam pelajaran membaca terkandung makna hendak memberikan pengetahuan. Pengetahuan yang mula-mula diketahui oleh manusia ialah nama. Nama adalah symbol pengetahuan permulaan, dan dari mengenali nama, orang dapat membuat pengertian atau konsep ilmu pengetahuan. Ingatlah pula ayat Al-Qur’an: yang menyatakan :
Bahwa Allah mengajar Nabi Adam akan segala nama yang membuat ia lebih berpengetahuan dari malaikat.

Kalau Kita perhatikan urutan kata demi kata didalam ayat Al-Qur’an itu dapatlah diambil suatu pelajaran bahwa dalam memilih nama itu perlu pula diperhatikan rangkaian keutamaannya. Nama yang paling utama ialah “Allah”, kemudian “Khaliq”, kemudian nama “Akram” dan kemudian nama “Alim”.
 
Pemangkatan nama itu mempunyai sifat efektif yang ditimbulkannya, sehingga mewujudkan penggolongan nama eksistensi dengan nama Allah. Allah adalah nama eksistensi dan dapat dilengkapi dengan nama sifat (Allah Pencipta, Allah Yang Mulia, Allah Yang Maha Mengetahui dan sebagainya). Kalau kita ringkaskan pembicaraan kita maka dapatlah ditarik suatu konklusi bahwa metode itu pada dasarnya adalah penyusunan pengajaran yang sesuai dengan daya serap murid.Ayat-ayat Al-Qur’an turun secara situasional, yang berarti bahan pelajaran itu hendaklah actual bagi murid, dan diberikan secara bertahap, sebagaimana halnyya ayat Al-Qur’an itu turun sebagian-sebagian.

1. Pengelolaan Kelas
Yang dimaksud dengan pengelolaan kelas ialah pengelolaan kelas sebagai bagian dari sekolah secara keseluruhan yang menjadi pusat/tempat terjadinya proses belajar-mengajar.
Proses belajar-mengajar didalam kelas hakikatnya akan melibatkan unsur-unsur yang ada didalam sekolah yang besangkutan akan tetapi secara langsung akan terlibat hal-hal sebagai berikut :
(1)    Guru sebagai pendidik
(2)    Murid sebagai yang Didik
(3)    Alat-alat yang dipakai
(4)    Situasi dalam dan lingkungan kelas
(5)    Kelas itu sendiri
(6)    Dan lain-lain yang sewaktu-waktu terjadi.
 
Sebelum membicarakan masalah-masalah guru, murid, alat-alat, situasi kelas dan kelas itu sendiri, maka sudah harus dipikirkan sejak awal pembangunannya supaya pembangunan gedung dimana tempat kelas tempat belajar sudah disesuaikan dengan persyaratan pendidikan, kesehatan, keamanan murid, dan kelancaran komunikasi.
 
Dengan demikian letak kelas sudah diperhatikan dan diperhitungkan terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berupa gangguan-gangguan terhadap berlangsungnya proses belajar mengajar seperti :
 
(1)    Kuang masuknya udara kedalam kelas sehingga situasi kelas menjadi pengap;
(2)    Masuknya cahaya matahari kedalam kelas mengganggu penglihatan anak-anak atau tidak ada cahaya yang masuk karena tertutup oleh bangunan yang lain;
(3)    Cat yang terlalu tajam pada tembok sekolah sehingga mengganggu pandangan mata;
(4)    Keadaan di kelas lembab dan lain-lain.


Read More »
Sabtu, Juni 08, 2013 | 0 comments